Minggu, 09 Juni 2013

matikan hati ini tuhan

aku tak sanggup mencintai lagi 

sepertinya nyaman

Sepertinya nyaman, berada di suatu sore bersamamu
.
Dan sepertinya nyaman, menikmati angin siang bersamamu..

Andai bisa ku mulai cerita ini tanpa harus ku membayangkannya lagi.
Sepertinya nyaman, mendengarkan kamu bercerita banyak
.
Dan sepertinya nyaman, berdua denganmu dan tertawa lepas
.
Andai bisa ku mulai mendekatimu, tanpa harus ku menyerah.

Andai bisa ku mulai membuatmu nyaman,

pada saat engkau tenang dan terisak.

“aku tau nyamannya menghabiskan waktu denganmu, yaa someday kita

berdua bakal ngerasain nyaman itu lagi saat kita berdua sudah pantas

untuk saling mendampingi"

#harkos

awalnya kertas ini kosong….
terus kamu dateng dan ngisi kertas ini dengan berbagai macam tulisan maupun gambar
….
tapi kertas ini masih kosong…..kenapa?
 karena kamu mengisinya dengan tinta putih

karma akan semesta


aku termenung sendiri akan sebuah kata yang kamu ucapkan
sebenernya akupun malu untuk mengungkapkannya dan aku telah melawan takdir
disaat kamu mengucapkan kata
kamu nganggap kita temenan gak sih ?"
dan dibenak pikiran ku ingin menjawab ya dan tidak itu terasa sangatlah berat sekali !!! dan terasa mengganjal dihati aku ...dan aku masih berfikir  di satu sisi kamu masih menginginkan dia dan di sisilain aku sebaliknya terlalu mengarapkan kamu !!
mengapa harus ku kejar kalo berunjung sakit
mengapa aku selalu memberi harapan berlebih untuk kamu
aku percaya kok tuhan itu adil ,takdir lah yang mempertemukan kita dan takdirlah yang memisahkan kita
aku hanya butuh orang yang aku cintai
aku hanya butuh orang yang merhatiin aku
dikala aku sakit , susah , senang atau tiada



aku rindu gelak tawa seorang wanita disampingku
akupun merindu akan belayan kasih sayang yang selayaknya ibu ....
tuhan apabila aku telah menyentuh karma mu maafkanlah aku...
kirimkanlah ,,,, semesta pun pasti tau ,,, semesta pasti kan menjawab semuanya
aku yakin ,terimakasih tuhan ....






happy birthday ocha

Melangkah tanpa arti

teman dan aku bangga


setelah kamu ngebuka blog ini semoga kamu ngerti apa yang aku rasa saat ini !!!
terimakasih atas semuanya .


Rabu, 05 Juni 2013

untuk mu soundcloud

Minggu, 02 Juni 2013

Aku Hanya Ingin Mencintai, Bukan Melukai


Mencinta adalah mengambil risiko tak dicintai kembali. Mencintai tanpa harus memiliki? Aku rasa hanya ada dalam dongeng. Setiap cinta, sedikit atau banyak, akan meminta kembali, meskipun hanya berupa senyuman bahwa dia cukup bahagia disajikan cinta walaupun tak punya cinta untuk membalas.
Mencintai diam-diam adalah sebuah keharusan menyiapkan diri mendapat balasan cinta diam-diam pula, atau penolakan diam-diam juga.
Semua orang hanya ingin mencintai dan dicintai. Namun mana yang harus didahulukan? Mencintai atau dicintai. Beberapa orang mencintai dan berharap dicintai, beberapa lainnya hanya akan mencintai jika ia dicintai terlebih dahulu. Ada persamaan hasil antara kedua hal tersebut, luka.
Pengharapan selalu berbanding lurus dengan kemungkinan kekecewaan yang didapat. Semakin kamu berharap, maka semakin besar kemungkinan kamu akan kecewa.
Mencinta seperti menggenggam seekor burung. Jika kamu menggenggamnya terlalu erat, maka akan mati. Namun jika menggenggamnya terlalu longgar, dia akan pergi. Jika kamu melakukan salah satu dari kedua hal tersebut, tetap hasil akhirnya adalah luka. Di hatimu, atau hatinya.
Pilih mana? Aku selalu benci pilihan, tapi lebih benci lagi jika tidak punya pilihan sama sekali. Ada kalanya ketika kamu hanya ingin mencintai, kamu hanya berakhir dengan melukai.
Aku lebih baik dilukai, karena ketika kamu dilukai kamu selalu punya objek untuk disalahkan, dimaki-maki. Apa bedanya dengan melukai? Melukai orang lain, apalagi orang yang kamu sayang, hanya menyisakan dirimu sendiri untuk disalahkan. Selamanya, kamu hanya bisa menyalahkan diri sendiri.
Kamu hanya bisa melihat dirimu hancur di depan bayanganmu sendiri.
Aku hanya ingin mencintai, bukan melukai.

Balasan untuk Jatuh Cinta Diam-Diam


Diam, katanya emas. Jika memang begitu, harusnya orang yang jatuh cinta diam-diam praktis menjadi orang terkaya di dunia. Aku tahu! Mengapa jatuh cinta diam-diam tak kunjung membuat pelakunya kaya? Karena ‘emas’ yang di dapat karena diamnya habis digerogoti rasa penasaran dan kelelahan menebak-nebak.
Sesungguhnya benak orang yang jatuh cinta diam-diam adalah benak yang paling cerewet. Dalam pikirannya, orang yang jatuh cinta diam-diam akan terus berceloteh, bertanya, dan lagi, menebak. Mungkin terlihat tak ada lelahnya. Tetapi sebenarnya tak ada yang pernah menginginkan itu, hanya saja tak ada yang kuasa ketika itu menimpa dirinya.
Pertanyaan demi pertanyaan terus saja menghiasi pikiran. Aku, juga pernah jatuh cinta diam-diam. Kurang atau lebihnya, aku selalu bertanya.
“Apakah dia tahu kalau aku sering memandanginya bahkan ketika dia melakukan aktivitas sekecil apa pun?”
“Apa dia pernah melihatku, menyadari keberadaanku? Atau aku begitu tak nyata?”
“Pernahkah sedikit saja terlintas dalam pikirannya tentang aku?”
“Mengapa dia mengenakan baju dengan warna seperti warna kesukaanku?”
“Mengapa dia menyanyikan lagu favoritku di lorong kelas tadi?”
“Ah, bagaimana bisa dia bercerita ke temannya baru saja menonton film yang sudah berkali-kali aku tonton karena aku sungguh menyukainya?”
“Apakah dia punya perasaan yang sama denganku?”
Aku sering merenung, khususnya di malam hari. Tak mengerti mengapa hubungan antara satu manusia dengan manusia lain bisa begitu rumit, atau dibuat rumit oleh manusia itu sendiri? Entah.
Setahuku, komunikasi bisa meluruskan semuanya, menghilangkan penasaran, menghentikan kamu menebak-nebak. Bicara, dan kamu akan berhenti untuk lelah.
Karena orang yang jatuh cinta diam-diam, cintanya juga bisa berbalas. Balasan berupa penerimaan diam-diam, penolakan diam-diam, atau mungkin diabaikan diam-diam.

aku tak sengaja

Aku tidak sengaja jatuh cinta. Aku tidak sengaja mencuri-curi pandang ketika aku bersama kamu. Dan ketika kamu melihat ke arahku, aku tidak sengaja membuang pandanganku sejauh-jauhnya, lebih jauh dari rekor lempar lembing yang pernah tercipta, hanya untuk tetap menjaga kamu tidak tahu aku sedang memandangmu.
Aku tidak sengaja merasa senang berada dalam satu momen bersamamu. Aku tidak sengaja mengharapkan kamu ada ketika kamu dan aku tidak dalam ruang dan waktu yang sama. Celingukanku membuktikannya.
Aku tidak sengaja berharap semua barang yang kupinjamkan padamu tidak kamu kembalikan sekaligus. Aku tidak sengaja berharap kamu meminjam satu barang lagi dariku setiap kamu mengembalikan barang lainnya. Semuanya tidak sengaja beralasan agar kita tetap bertemu.
Aku tidak sengaja mengaktifkan phenylethylamine dari sistem limbik otakku saat dekat kamu. Dan itu memicu euphoria. Aku tidak sengaja sangat suka suara tawamu terhadap leluconku. Ketika kamu aku goda, aku tidak sengaja nyaman menerima cubitan manja kamu yang mendarat di perutku. Aku tidak sengaja panik jika kehabisan bahasan obrolan ketika aku berbincang dengan kamu. Rasanya dimensi waktu lari terbirit-birit jika aku sedang bersama kamu, seolah kebersamaan aku dan kamu begitu menakutkan bagi waktu.
Aku tidak sengaja menawarkan baju hangatku ketika kamu kedinginan. Ah, aku tidak sengaja terus membayangkan wangi parfummu yang tertinggal di baju hangatku. Terus menerus, hingga pagi menjelang, handphone-ku adalah yang pertama ku-check. Aku tidak sengaja kecewa jika ada SMS namun bukan kamu pengirimnya. Aku tidak sengaja khawatir jika tidak tahu kabarmu.
Demi Tuhan, aku tidak sengaja uring-uringan ketika kamu tidak ada di tempat biasanya ketika aku cari. Aku tidak sengaja mencari tahu banyak hal tentangmu.
Aku tidak sengaja jatuh cinta kepadamu. Aku tidak sengaja benci membayangkan ini semua hanya pesan yang gagal aku decode dengan baik. Pesan yang kamu kirimkan begitu rumit, atau alat pen-decode-ku yang kalut tertutupi canggung, takut, rindu, cemas, harap, dan kawan-kawannya?
Aku tidak sengaja menjadikanmu “karena” dalam setiap “mengapa” yang bermuara di benakku.
Maaf, aku tidak sengaja…
Kamu tidak harus sengaja untuk jatuh cinta.
*Dua teori yang pernah aku dengar: 1) Otak tidak bisa menerima kata ‘tidak’ 2) Tiada ketidaksengajaan di dunia ini.
ditulis setelah melewati bersama momen-momen berharga dalam hidup, untuk kamu

pagi adalah kamu


Pagi adalah di saat mimpi atau kenyataan tak lagi penting, yang penting ada kamu.
Pagi adalah ketika aku berpikir bahkan mimpi paling indah pun tak ada apa-apanya jika aku melihat kamu tersenyum hari ini.
Pagi adalah ketika aku memulai berdoa lagi melihat kamu tersenyum hari ini.
Pagi adalah ketika aku menebak-nebak baju apa yang akan aku pakai agar nanti bisa terlihat serasi denganmu.
Pagi adalah menebak-nebak untuk berangkat jam berapa yang sesuai agar aku dan kamu berpapasan di jalan.
Pagi adalah semangat baru, membayangkan akan bertemu kamu yang tersenyum, meskipun bukan padaku.
Pagi adalah mencari-cari. Mencari kabar terbaru tentangmu.
Pagi adalah ketika matahari tersipu malu melihat kamu tersenyum. Dia menganggap dirinya jantan, dan kamu matahari betina.
Pagi adalah mengkhayal kamu adalah sisipan alunan dalam senandung harva malaikat pagi.
Pagi adalah mengkhayal lagi, mengkhayal kamu adalah malaikat pagi itu sendiri.
Pagi adalah ketika aku mengabaikan pesan dokter. Katanya, sarapan itu sehat, aku malah sarapan memikirikan kamu.
Pagi adalah ketika logikaku berkata “Kamu cuma kegeeran.” dipatahkan oleh perasaan yang berkata “Bukan, kamu jatuh cinta.”
Pagi adalah deg-degan membuka SMS di handphone, berharap itu dari kamu. Dan kecewa ketika tahu itu cuma promosi dari provider seluler.
Pagi adalah… Saat aku rindu kamu.
*sebuah siratan yang akhirnya tersurat dari suratan sebelumn

Jika Semalam Hujan

Foto: Instagram @daraprayoga
Ketika hujan turun, aku selalu berterima kasih. Berterima kasih kepada hujan, karena telah memberiku kesempatan untuk melamun. Bagiku, saat hujan adalah saat yang tepat untuk melamun. Melihat tetesan hujan dari jendela yang terlihat seperti memaksa untuk masuk tapi terhalang kaca jendela. Menatap kumpulan tetesannya yang bersatu menjadi sebuah aliran air menuruni kaca jendela, seolah mereka tak lagi ada harapan untuk masuk, dan rela untuk luruh jatuh ke tanah.
Entah mengapa, hujan yang datang beramai-ramai itu hanya menghadirkan sepi. Apakah hujan terdiri atas 1% air + 99% kesepian? Jika benar begitu, yang tersisa hanya 100% kenangan.
Namun, bahkan setelah hujan berhenti pun kesepian itu tak kunjung luruh bersama aliran air hujan? Masih tetap menggantung seperti tetesan embun di pucuk daun.

Hanya Sebuah Titik Dua dan Tutup Kurung


Pernahkah kamu mengenal seseorang yang punya pengaruh besar terhadap dirimu, bahkan terlalu besar? Aku, pernah.
Seseorang seperti itu adalah seseorang yang istimewa. Seseorang yang istimewa bisa menjungkirbalikkan mood-mu dalam sekejap. Dia bisa membuatmu yang sedang dalam suasana hati sumringah menjadi diam dan menekuk muka dalam satu kedipan saja. Sederhananya, ketika dia tersenyum aku semakin tersenyum. Namun ketika dia cemberut, apapun suasana hatiku, spontan wajahku ini menjadi kusut.
Ah, apakah ini sebuah ketergantungan? Kamu selalu membuatku kawatir. Kawatir jika kamu pergi, senyumku ini akan bergantung pada senyum siapa lagi?
Sadarkah kamu pengaruhmu begitu besar buatku? Ketika aku kecewa, sedih, bahkan marah, satu simpul senyummu bisa mengembangkan senyumku yang terkubur dalam tanah hati yang gelap.
Sayang, mudah sekali bagimu melengkungkan garis bibirku ke atas atau ke bawah. Kamu tinggal pilih. Jadi aku mohon, tetaplah tersenyum, untukku, bersamaku.
Walaupun hanya sebuah titik dua dan sebuah kurung tutup :)

maaf

Nila setitik rusak susu sebelanga.
Aku pernah berpikir keras bagaimana kalimat di atas bisa benar-benar merepresentasikan keadaan dalam kenyataannya. Aku selalu benci mengapa pengaruh negatif selalu lebih kuat dibanding yang positif.
Bagaimana mungkin nila yang hanya setitik itu bisa merusak susu sebelanga banyaknya? Tentunya tergantung kadar si nila itu sendiri. Namun yang aku tahu, keburukan sering kali lebih kuat. Contohnya orang terbaik yang pernah kamu kenal, sekali dia melakukan kesalahan/keburukan, kontan semua kebaikannya seakan luruh, sirna, sia-sia.
Ketika dia berbuat salah, ingatlah kebaikannya.”
Tentu saja hal itu diperlukan, agar apa? Agar kita menjadi hamba yang pemaaf, tidak melebihi sifat Tuhannya, namun berusaha mengikuti jalan-Nya. Namun masih ada yang kurang dari ungkapan tadi, mesti ditambah sebaliknya, “Ketika dia berbuat baik, ingatlah kesalahannya. Hanya agar kamu tetap waspada.
Ya, memang apa pun yang berlebihan, tidak baik. Seperti halnya memaafkan, dan membenci. Membencilah, marahlah, kecewalah dengan sewajarnya, agar kamu bisa dengan wajar memaafkan.

kamu jangan pergi


Jika kamu pergi, senyum ini untuk siapa lagi? Lalu ke mana larinya lengkung bibir itu? Hanya menyelinap ke dalam pori-pori mimpi?
Jika kamu pergi, ke mana lagi aku layangkan alunan rindu ini? Ke telinga Cupid yang sudah lumpuh menembakkan panah cintanya kepadamu? Ke jari-jari kedinginan yang tak pernah kamu genggam lagi?
Jika kamu pergi, apa lagi yang bisa aku tulis tentang sayang ini? Tentang ketiadaan kamu? Tentang pundak kosong tak berpenghuni yang merindukan sandaran kamu?
Jika kamu pergi, akan aku lipat menjadi apa kertas yang biasa aku buat menjadi burung atau kupu-kupu kesukaanmu? Atau hanya harus kuubah menjadi mawar yang kelopaknya gugur perlahan? Atau harus kubentuk menjadi sebuah nisan yang di atasnya tertulis kenangan kita?
Jika kamu pergi, siapa lagi yang aku tunggu menjadi penyemangat di saat-saat tersulitku? Aku harus menunggu suara burung hantu di tengah malam, seakan mengejek atas segala kekalahanku? Atau cukup ditemani keheningan malam, mendinginkan hati?
Jika kamu tak kembali, apalagi yang pantas aku tunggu mengorbankan sisa waktu hidupku? Menunggu hingga usia menggerogoti jasad ini? Bahkan dengan bantuan rindu, jiwaku tak akan tersisa.
Kamu, jangan pergi

Aku Yakin Hati Itu Akan Runtuh Juga


Mengapa kamu begitu keras?
Kamu begitu tak tergoyahkan. Menyelami dinding solid yang menampang di hatimu seperti melubangi sebuah batu dengan bermodalkan tetesan air. Namun dengan kesabaran, aku yakin suatu saat nanti hatimu akan runtuh juga.
Kamu bilang, jangan terlalu berharap. Saran yang baik, meski aku tidak terlalu suka itu. Aku hanya berusaha keras, sekeras hati kamu. Aku yakin, usaha sekeras apa pun tak akan cukup tanpa bantuan harapan dan keyakinan pelakunya.
Jangan remehkan cinta ini, sayang. Jangan siakan sabar ini. Dan ketika suatu saat nanti hatimu sudah berhasil kulubangi, cintaku akan menelusup bersatu bersama membran hatimu yang keras. Aku hanya ingin cinta kita menjadi cinta yang keras, tak tergoyahkan tetesan godaan mana pun.
Seperti kata Raesaka yang dimodifikasi, “Tuhan itu adil. Cinta yang hebat diminta bertahan hingga sekarat.”

mencintai tulus


Mencintai dengan tulus, bukan bagaimana menimbang-nimbang bagaimana kelebihannya bisa kamu seimbangkan dengan dirimu sendiri. Mencintai dengan tulus adalah bagaimana kamu menerima segala kekurangannya. Namun apakah kita mencintai hanya ingin mendapat kekurangannya? Semua orang pasti memiliki kelebihan, akan tetapi anggap saja itu bonus. Agar kelak kita tak jumawa dan memanfaatkan.
Mencintai adalah mengerti. Mengkonversi, bagaimana kekurangan yang dimilikinya diubah menjadi kelebihan. Setidaknya bagi diri sendiri.

maaf cintaku terbagi


Sebuah cinta, mestinya seutuhnya.
Tak ada yang lebih menyakitkan dari cinta yang dibagi. Sejatinya, semua orang ingin dicintai secara total. Satu. Kadang cinta tak cukup mencintai satu.
Sebelum yang kamu cintai sekarang, pasti ada orang yang pernah kamu cintai juga. Akan begitu seterusnya. Namun ini semua bukan tentang cinta yang tertinggal, tetapi bagaimana kamu menggunakan cinta yang ada, untuk mencintai dengan penuh.
Percayalah, sebuah cinta akan terisi dengan sendirinya sampai penuh. Kadang sampai luber.
Cinta yang berlebihan, apalagi kekurangan, sama-sama tak baik. Tapi kita hanya manusia biasa. Kadang cinta yang sudah satu, digunakan mencintai seseorang–yang tanpa alasan jelas bisa pergi sewaktu-waktu– dalam sebuah kurun waktu, hingga saatnya ada orang baru. Cinta yang berlebihan, pada saat yang tepat, pada saat yang disepakati itu benar, harus dibagi.
Maafkan aku, sayang. Sepertinya cintaku yang satu, kepadamu, kelak akan terbagi. Aku tak akan kuat menahan terbaginya cintaku yang satu ini. Aku sudah melihat cinta yang ini akan berlebihan, aku membutuhkan wadah yang baru untuknya. Entah dirimu akan terima atau tidak, tetapi aku harus membagi cinta yang satu ini.
Kelak, cintaku akan terbagi, untuk seorang gadis. Seorang gadis kecil yang di pagi hari nanti aku ikatkan tali sepatunya pada hari pertama ia sekolah, yang mencium tanganku sebelum melangkahkan kaki kecilnya ke dunia yang baru, yang ketika dalam malam yang sama aku pulang dia bergegas menghampiri, “Ibu, ayah pulang!” seraya berteriak memanggil kamu.
Berkenankah, kamu?

tak ingin malu pada badai dan kerikil


Pernahkah kamu melihat badai sebesar itu?
Pernahkah kamu melewatinya?
Banyak di antara kamu pasti pernah melewatinya. Punya banyak hal untuk diceritakan, dibanggakan. Bersukur karena telah melewati badai terbesar yang pernah kamu temui. Merumuskan cara yang mungkin kebetulan kamu temui saat melewati badai besar tadi, dan membuat daftar apa saja yang perlu disiapkan saat menemui badai sedahsyat itu.
Semua yang besar, akan jelas terlihat, akan cukup waktu untuk menyadarinya dan kemudian bersiap menghadapinya. Namun bagaimana kisahnya jika badai itu kecil? Bahkan lebih kecil dari badai, mungkin juga lebih kecil dari kerikil pantai.

Ketika kamu menemui sebuah badai, badai yang besar. Kamu akan menyadarinya lebih awal. Akan lebih banyak waktu untuk mempersiapkan diri. Semua itu bisa mendukungmu melewati semuanya, meski sendiri.
Akan tetapi, jika bentuknya kecil, anggap saja lebih kecil dari kerikil, kadang kamu tak pernah menyadarinya. Kamu tak punya persiapan. Kamu tak punya ancang-ancang. Bahkan cenderung meremehkan, menghadapinya begitu saja. Hasilnya apa? Kaki yang berdarah. Rasa sakit yang menyelinap ke dalam, perlahan.
Sesuatu yang kecil bisa menyelinap dan menghancurkan dari dalam. Dan yang paling menakutkan adalah, semuanya terjadi tanpa sempat kamu sadari.
Ironis rasanya mengetahui bagaimana seorang manusia bisa dengan percaya diri dan mudahnya melewati sebuah badai yang besar. Namun dalam waktu yang sama mengetahui ada beberapa pasang manusia yang bisa hancur hanya karena kerikil kecil.
Sepasang manusia yang akhirnya rela saling melepaskan genggaman tangan hanya karena ancaman kerikil kecil, padahal sebelumnya pernah melewati puluhan badai yang luar biasa besarnya berdua. Logikanya, sepasang manusia yang berhasil melewati badai berdua atas nama cinta pasti lebih bisa melewati kerikil kecil. Namun sekali lagi, cinta seringkali tak sejalan dengan logika.
Badai yang besar harusnya malu kepada kerikil kecil. Dan sepasang manusia yang kehilangan cinta hanya karena kerikil kecil, akan tertutup mukanya oleh pasir yang terbawa angin badai.
Aku tak ingin malu di depan badai dan kerikil, beserta pasir yang senantiasa menyertai mereka.
Sebuah cinta, semestinya lebih digdaya dari badai dan kerikil yang melanda.
Kepada kamu, genggam tanganku. Kita lewati badai, kita langkahi kerikil.

detektif lewat

Sekarang ini, kepo lagi diminati banget. Ada yang kepo timeline dia sampe ber-years-years ago, malah sampe pertama dia ngetwit. Kepoin timeline dia sampe pertama kali dia bikin twitter itu sebuah pencapaian tersendiri bagi kepoers. Selain itu, ada juga kepoers yang keponya cuma sampe beberapa menit yang lalu. Kok gitu? Karena twit sebelumnya udah dikepoin beberapa jam lalu. Dengan kata lain, keponya setiap saat. *geleng-geleng*
Yang biasanya dikepoin kepoers itu adalah yang pasti bio dan avatarnya dia dulu, abis itu kemudian twitnya, abis itu cek favorites-nya, following-nya, followers-nya. Yang udah freak banget tuh sampe di-search siapa aja yang mention dia terus dikepoin sambil ngomong dalam hati, “Dih, siapa sih nih orang ganjen banget mention-mention dia.”
Seiring terus berkembangnya teknologi zaman sekarang, para kepoers semakin dimanjain sama fitur-fitur canggih dari berbagai twitter client yang dianggap ‘surga banget’ bagi para kepoers. Fitur yang akrab dan harus disukuri sama kepoers karena keberadaannya itu, antara lain go to user, private list, inner circle, save search, in reply to/view conversation, enlarge avatar, favorites, recent images.
Sayangnya, kepoers itu identik sama ngomong dalam hati, biasanya sering curcol lewat RT-an twit sambil teriak, “BACA NIH!!!”, dalam hati. Sama kayak cintanya, ngomongnya kepoers itu juga biasanya cuma dalam hati. Tapi kepoers itu gak selamanya buruk. Sebenernya kepoers cuma pengen menunjukkan kepeduliannya, cuma tidak terlihat. Kepo itu bisa nyenengin, tapi (seringnya) bikin galau juga.
Ya namanya bukan kepo kalo gak bikin ketagihan.
Gimana pun, kepo pasti ujungnya galau. Kalo kepo hasilnya yang pengen dibaca jadi galau karena itu bener buat kita apa bukan, kalo kepo hasilnya yang gak pengen dibaca, galau juga, gak kepo lebih galau lagi karena penasaran. Sampe-sampe persatuan kepoers mengeluarkan motto:
“Lebih baik galau karena nyesek daripada mati penasaran.”
Ada lagi yang bikin galau kepoers selain liat si dia mention-mentionan sama pacar/gebetannya. Kepoers bisa galau mendadak maksimal kalo mendapati ternyata akun yang sering dikepoin ternyata ngeblok dia. Tapi itu masih bisa ditangani dengan bikin akun baru. Nah, kalo yang dikepoin taunya akunnya digembok? Bisa kelimpungan tuh kepoers. Satu-satu cara terdekat kalo akun dia digembok ya kepo lewat akun temennya yang udah follow, karena kalopun bikin akun baru terus mau follow si dia lagi kan belum tentu diterima.
Kepoers itu jahat, kalo dia yang dikepoin udah punya gebetan atau pacar, berdoa tiap hari ngarep dia putus sama pacarnya, tapi kalo putus beneran gak ada tuh keberanian sedikit pun buat deketin.
Biasanya dalam melakukan operasinya, kepoers sering banget sambil bergumam kalimat-kalimat kayak gini…
“Duh, kok dia gak ngetwit sih? Jangan-jangan lagi jalan sama pacarnya.”
“Dia kapan sih sadar keberadaan gue?”
“Yah, kok udah ganti avatar lagi? Padahal yang kemaren aja belum sempet di-save.”
“Oh, itu pacarnya. Bagusan juga guweh!”
Hemm… apalagi ya yang biasanya dikatakan kepoers pas lagi kepo?

Alasan Kenapa Orang Bertahan Sejauh Itu


Foto: Picshut
Pernah gak kamu bertanya, “Kenapa aku bertahan sampai segininya?” Padahal keadaan gak memungkinkan lagi, mustahil buat bersama.
Kadang, seseorang gak tau alasan mereka bertahan sejauh itu dan melampaui batasnya.
Ketika seseorang suka sama orang lain, dia pasti akan mencari tau banyak tentang orang itu. Gimana kabarnya dia, latar belakangnya, kebiasaannya. Kemudian dia akan menyesuaikan informasi-informasi tentang dia yang disuka dengan kebiasaan yang selama ini dia pegang. Bahkan beberapa orang ada yang memaksakan dan rela mengalah demi menyesuaikan kebiasaan dengan orang yang disukai itu. Contoh sederhananya adalah kalo kamu suka sama orang lain, maka apa yang menjadi kesukaannya adalah kesukaan kamu juga. Misalnya ketika kamu suka  orang dan orang itu suka klub bola tertentu, kamu bakal suka (atau mau gak mau mencoba) suka sama klub bola yang sama dengan dia.
Itu namanya pengorbanan. Kemudian kondisi-kondisi yang sama tadi diartikan sebagai ‘kecocokan’ supaya dia mau sama kamu. Kemudian pada kasus beberapa orang yang beruntung gak dapet penolakan, hubungan itu diteruskan ke pacaran. Pada masa itu, bukan berarti semuanya sudah cocok dan baik-baik aja. Selalu ada berantem atau semacamnya karena adanya ketidaksesuaian. Tapi bagi yang bisa mengelola keadaan dan berhasil melewatinya, bakal jadi ‘pelajaran penyesuaian’ diri satu dengan yang lain.
Semakin lama, semakin banyak ‘pelajaran’ yang dilewati. Semakin mengerti satu sama lain. Dan ketika semua ketidaksesuaian gak bisa lagi ditolerir, di sinilah semuanya berawal. Ada dilema datang, mau udahan, atau bertahan.
Dan seperti yang gue bilang tadi di atas, ada yang memutuskan untuk bertahan tapi gak tau alasan pastinya. Mungkin sebenarnya mereka bukan gak tau, cuma bingung yang mana karena alasan itu terlalu banyak atau terlalu samar. Kemudian berpikir semua ketulusan yang dilakukan adalah sebuah kebodohan.
Yang pasti, alasan mereka untuk bertahan gak akan jauh-jauh dari…
Pengorbanan. Semua pengorbanan yang dulu dilakuin semata-mata biar kamu sesuai sama dia, gak mungkin dilepasin gitu aja. Pengorbanan itu berubah menjadi kebiasaan dan ketika waktunya sudah terlewat, menjadi kenangan yang sulit dilupakan.
Ketika hendak menyerah, ingatlah apa yang sudah kamu lakukan sampai sejauh ini.
Keengganan memulai dengan yang baru. Memulai lagi, dari awal lagi, menyesuaikan lagi, berkorban lagi. Beberapa orang terlalu malas, atau terlalu takut melakukan hal ini.
Memulai itu gak pernah mudah.
Gak tergantikan. Orang yang bertahan sampai sebegitunya gak mungkin rasanya kalo buat orang yang biasa-biasa saja.
Mungkin banyak yang lebih baik dari dia, tapi yang sama kayak dia, gak akan ada.
Alasan terakhir. Katanya, ketika kamu jatuh cinta dengan sangat kepada seseorang, kamu gak akan tau kenapa. Mungkin alasan itu akhirnya berhasil ditemukan. Sebuah kata sederhana yang diterapkan dengan rumit, “Sayang”.
Lalu gimana dengan kamu? Perasaan kamu itu stuck, atau sayang? Kamu itu tulus atau bodoh?

Semua Cowok Itu Brengsek

Foto: weknowmemes

jatuh cinta itu memang aneh

“Kok kamu gak ngetwit, siiiih?”

Orang yang jatuh cinta itu aneh. Jatuh cinta berarti punya kebiasaan baru… yang aneh. Kebiasaan baru yang selalu berhubungan sama dia yang membuat jatuh cinta. Anehnya, orang yang jatuh cinta gak pernah merasa dirinya aneh, bahkan keanehan pada diri orang yang membuat jatuh cinta gak pernah dianggap aneh oleh mereka yang sedang jatuh cinta.
Membaca kalimat di atas aneh, kan?
Jika tidak, mungkin memang karena kamu sedang jatuh cinta saja.
Jatuh cinta itu pertama kali melihat dia, langsung terasa ada sesuatu yang berbeda. Cara dia melihat, salah, maksudku menatap, memiliki efek yang berbeda. Efek yang luar biasa. Tatapan yang lebih dalam.
Kemudian ketika pulang, semuanya mulai terpikirkan dengan sendirinya. Mulai berpikir seribu langkah ke depan. Bagaimana bisa bertemu dia lagi dengan kesan ‘gak sengaja’, padahal semua rencana sudah disiapkan agar pertemuan ‘gak disengaja’ itu bisa terwujud. Hasilnya, seringkali orang yang jatuh cinta itu bolak-balik ke tempat pertama kali bertemu dia tanpa sengaja… berharap bertemu lagi, dengan sengaja, tapi tak terlihat sengaja. Tentunya sebelum melakukan itu semua, berdandan paling sempurna ada di to-do list pertama.
Saat untuk kedua kalinya bertemu, jantung itu terasa sudah tidak lagi berada di tempatnya, tapi degupannya terasa seperti tepat berada di depan gendang telinga. Begitu pula di pertemuan-pertemuan berikutnya. Kalau ada bunga di sekitar sana, pasti orang yang jatuh cinta akan mengambilnya kemudian mencopot sehelai demi sehelai kelopaknya dan berkata, “Samperin… Nggak… Samperin… Nggak…” Begitu terus. Dan tanpa sadar ketika kelopak bunga terakhir jatuh pada kata “samperin”, hitungannya diulang dari awal. Mencari pembenaran untuk menjadi pengecut yang menghamba pada malu, gengsi, dan takut.
Sampai bunga di sekitar habis, dan disadarkan oleh kemungkinan gak akan ketemu dia lagi, akhirnya seorang yang jatuh cinta akan dengan atau tanpa sadar menghampiri dia, lalu melemparkan senyum kecil dan mengulurkan tangan. Mungkin sapaan teramah yang pernah dilakukan, hanya untuk mendapatkan perhatian, atau sekadar kenalan.
Jika semuanya berhasil, keanehan orang yang jatuh cinta masih berlanjut. Orang yang jatuh cinta akan bertingkah aneh di dunia maya khususnya, mencari tau segala informasi tentang dia yang membuatnya jatuh. Google, Twitter, Facebook, Instagram, LINE, semuanya dia jelajahi, demi secercah informasi.
Apabila beruntung tidak mendapati ternyata dia sudah menjadi milik yang lain, keanehan demi keanehan bertambah. Kode-kode mulai dilemparkan, tak peduli dia akan membacanya atau tidak. Mungkin yang ada di dalam hatinya, “Namanya juga usaha.” Akan tetapi, jauh di benaknya, harapan selalu ada.
Berhasil mendapatkan kontaknya adalah sebagian pencapaian tertinggi bagi orang yang sedang jatuh cinta. Rasanya ingin sekali memasukkannya ke Curriculum Vitae. Lalu keanehan berikutnya, mengetik pesan, kemudian menghapusnya lagi, mengetiknya lagi, menghapusnya lagi, sampai akhirnya sebuah malam waktu itu berakhir dengan tidak ada satupun pesan yang dikirim.
Rasanya, kata demi kata, attitude demi attitude saat sedang jatuh cinta, haram hukumnya untuk ada sedikit saja cacat di dalamnya. Ketika ada sedikit saja kesalahan, rasanya ingin memaki diri sendiri, lalu meminta maaf padanya berkali-kali. Dan ketika berhasil mengobrol, lalu habislah topik pembicaraan, seringkali orang yang sedang jatuh cinta mengada-adakan topik pembicaraan yang gak penting sekalipun. Intinya, yang penting bisa ngobrol sama dia. Bahkan saat tidak ada bahan obrolan sekalipun kadang tetap memaksakan untuk menghubungi, akhirnya cuma diem-dieman. Menutup malam dengan tak ada sedikit pun keinginan untuk menghapus chat history bersamanya… untuk dibaca kemudian sewaktu-waktu.
Jatuh cinta memang begitu. Semua informasi tentangnya mengalahkan segala berita penting baik skala nasional, ataupun internasional. Karena bagi orang yang jatuh cinta, berita dengan skala hati –yaitu berita tentangnya– adalah yang terpenting.
Jatuh cinta adalah memaksakan diri untuk menyamakan hal demi hal yang menjadi kesukaannya. Semuanya dilakukan hanya mencoba untuk menjadi sempurna. Jatuh cinta juga adalah menebak-nebak setiap kata-kata yang dia keluarkan di akun media sosialnya, “Ini buatku, bukan? Kalau yang ini, buatku?”
Aku benci jatuh cinta. Semuanya membuatku jadi aneh. Anehnya, aku tetap saja jatuh cinta. Jadi, tak perlu merasa aneh, dan nikmati saja.
Karena bagi orang yang jatuh cinta, selama hal itu berhubungan dengan dia yang dipuja, semuanya jadi masuk aka

ketidakpastian

“Mencinta, harusnya layaknya dendam. Mesti berbalas.”
Beberapa orang pernah merindu hingga menangis.
Ingin memeluknya hingga sesak napas.
Semua semata karena tak ada balasan darinya. Jangankan balasan, tahu pun dia tidak. Jatuh cinta sendirian membuatmu kuat, memiliki tenaga layaknya monster, hampir tak terbatas.
Namun semuanya habis diserap penasaran, diserap prasangka yang dibangun sendiri, kemudian 

bebaskan hati



Beberapa orang menunggu, dan beberapa orang lainnya tak tahu sedang ditunggu.
Lantas salahkah dia jika dia terus berjalan ke depan? Semakin menjauh.
Orang yang jatuh cinta namun hanya menunggu, lebih sia-sia dari menggarami air laut. Jangan pernah salahkan orang yang ditunggu jika mengungkapkan perasaan saja tak mampu.
Kebesaran cinta tak bisa diukur dengan seberapa lama menunggu, tetapi seberapa berani menungkapkannya dengan tulus dan cara yang indah.
Cinta yang utuh tidak layak menunggu terlalu lama, karena seiring berjalannya waktu hati itu akan habis dimakan sendiri.
Mencinta diam-diam adalah hal paling egois di dunia. Tak ada yang lebih egois dari seseorang yang memenjarakan hatinya sendiri. Begitu besar egonya menahan rasa cinta yang begitu ingin menyeruak ke luar, terbang bebas ke hati yang ingin disinggahinya.
Aku takut hatinya enggan menampungku.
Itu hanya alasan yang diada-ada sebuah sangkar hati yang egois. Hati sudah terlalu kenyang dengan alasan aku tak pantas untuk dia, aku bukan siapa-siapa baginya, dia tak menginginkanku, dan alasan egois lainnya.
Jangan kekang cinta. Bebaskan, terbangkan, maka ia akan kembali dengan sangkar barunya yang indah, untukmu. Layaknya burung camar terbang mengarungi sore yang indah di pesisir pantai.

izinkan aku


Aku tidak pernah lelah mengguratkan pena kisah kita bertintakan kenangan.
Aku tidak percaya bahwa tidak ada yang abadi, mungkin cintamu iya.
Aku tidak mengerti apa yang akhirnya mendorongku untuk menetapkan hati.
Aku tidak ingin menjadikan kenangan ini berceceran.
Mewujudkannya dalam bentuk susunan bab demi bab berisi kisah kita nampaknya akan menjadi kisah romantis yang pernah aku alami. Maka izinkan aku membubuhkan sekisah demi sekisah kita sehingga menjadi sebuah balada cinta yang di dalamnya diiringi genderang cinta yang jatuh, dan bunyi biola memekakkan telinga hingga senarnya putus.
Aku mohon kerestuanmu. Aku kisahkan abadi cinta. Aku abadikan kisah cinta.
Maukah kamu mengizinkan aku?

Di persimpangan obat luka


Aku terduduk di sini. Di persimpangan jalan menjadi saksi kamu pergi. Sejak kamu pergi, dingin menyerang lagi. Namun kali ini bertemankan sepi.
Aku menyaksikan punggungmu perlahan menjauh. Meninggalkan aku dengan hati berjuta gaduh. Entah akankah kamu kembali berlabuh. Tepat di mana hatimu pernah terjatuh.
Aku tak bisa menjadi cahaya. Dalam setiap langkahmu yang penuh lara. Hingga kamu akhirnya memilih dia. Tinggal aku berpeluh luka.
Aku hanya berangan. Menjadikanmu sejuta kenangan. Dalam hati yang penuh harapan. Lupakan aku? Jangan.
Kamu tak perlu meragu. Jika kelak kamu lupa aku. Aku masih di sini terbujur kaku. Obati luka satu persatu.